Selasa, 24 Maret 2020

Fenomena SMK Sastra, terlalu banyak teori


siswa smk 2020Berbicara SMK tentu terbayang dalam benak kita tentang sistem pendidikan yang menitikberatkan pada keterampilan lulusannya. Keterampilan paling utama, ranah psikomotrik. Keterampilan yang dimiliki sesuai dengan kompetensi yang dipilih. Dengan target utama output lulusan SMK dapat terserap di dunia kerja. Walaupun fakta berbicara lain. Banyak lulusan SMK menjadi pengangguran tidak terserap di dunia usaha atau dunia kerja. Pada tahun 2017 lulusan SMK berjumlah 1.250.000 orang dengan jumlah yang menganggur sebanyak 649.827 orang (Jawa Pos, 8 Pebruari 2018). 

Memang dari sisi jumlah, pertumbuhan SMK ibarat jamur dimusim penghujan. Tumbuh subur. Tumbuh seiring dengan program Pemerintah
dengan merevitalisasi SMK. Minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di SMK juga besar. Banyak faktor yang mempengaruhi baik dari sisi ekonomi ataupun keinginan untuk segera bekerja. 

Namun sayang perkembangan atau pertumbuhan SMK tidak diimbangi dengan pengelolaan SMK yang profesional. Masih ada bahkan banyak SMK yang hanya memberikan teori dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Hal ini bertentangan dengan seharusnya yang ada di SMK. SMK mestinya memberikan pembelajaran yang mengkombinasikan antara teori dan praktik. 

Kondisi ini sering terjadi pada SMK yang baru dibuka. SMK baru biasanya belum dapat mengaplikasikan 8 standar pendidikan. Banyaknya teori yang diberikan berdampak pada praktik yang dilaksanakan. Siswa hanya dijejali teori dalam pembelajaran. Keterbatasan guru produktif dan sarana prasarana membawa dampak yang besar dalam pembelajaran. Kondisi ini berdampak pada psikologis peserta didik dan kesan kurang baik pada masyarakat. Padahal SMK dikenal dengan sekolah pencetak tenaga kerja terampil yang siap lanjut, siap latih dan siap kerja. 

Sebutan SMK semacam ini disebut SMK Sastra. Artinya SMK ini hanya memberikan pembelajaran teori saja. Banyak teori praktik minimal. Memang kondisi ini perlu perhatian semua pihak. Pemerintah dan masyarakat perlu kompak mengatasi fenomena SMK Sastra ini. Bila dibiarkan akan mengurangi mutu lulusan SMK. 

Permasalahan sarana prasarana dan minimnya guru produktif adalah penyebab utama. Penyiapan sarana dan prasarana SMK memang membutuhkan dana yang relatif besar besar. Ketergantungan pada bantuan dari Pemerintah membuat penyiapan sarana prasarana tidak segera teratasi. Karena Pemerintah pusat harus melayani SMK seluruh Indonesia. 

SMK yang hanya memberikan pembelajaran teori tanpa praktik akan menghasilkan lulusan yang tidak kompeten. Lulusan tidak kompeten akan menambah pengangguran karena tidak terserap di dunia kerja. Dengan tagline SMK bisa dan SMK hebat mestinya lulusan SMK siap mengisi kebutuhan tenaga kerja di Indonesia bukan sebaliknya menambah jumlah pengangguran. 

Kompetensi siswa dari SMK yang mengajarkan teori saja pasti diragukan. Kompetensi menjadi jaminan bekerja dengan terampil dan cekatan serta menghasilkan karya yang baik. Karena praktik di sekolah miniatur dunia kerja. Bila tidak bisa bekerja menandakan saat sekolah tidak pembelajaran praktik.Memang teori penting dan mendukung praktik. Namun apa jadinya teori yang dipelajari tanpa praktik. 

Realitas atau fenomena SMK Sastra bukan rahasia umum lagi. Masyarakat, praktisi bahkan Pemerintah pun mengetahui kondisi ini. Terutama SMK swasta di pedesaan atau pelosok Indonesia. Banyak terobosan yang telah dilakukan untuk merubah kondisi SMK Sastra. Adapun yang telah dilakukan pemerintah khususnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan antara lain : 

· Revitalisasi SMK dalam bentuk program kegiatan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten di bidangnya. 

· Bantuan sarana dan prasarana kepada SMK Negeri dan swasta. Bantuan berupa gedung, peralatan praktik dan lain-lain. 

· Mengajak pihak dunia usaha dan industri untuk bersinergi mengembangkan dan memajukan SMK dalam berbagai aspek seperti magang kerja, sinkronisasi kurikulum, dan penyusunan bersama kurikulum serta standar kelulusan. 

· Mengharap partisipasi aktif masyarakat untuk memajukan pendidikan SMK dalam berbagai aspek. 

Faktor internal SMK sebagai penyelenggara pendidikan kejuruan harus berbenah. Dimulai pemilihan paket kompetensi keahlian harus sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri di daerah SMK berada. Ketersediaan pendidik juga tak kalah penting serta sara penunjang perlu dipersiapkan. Jangan sampai membuka sebuah paket kompetensi keahlian di SMK tanpa melalui tahap perencanaan dan analisis kelayakan yang tepat. Agar tidak menambah jumlah SMK sastra dan lulusan yang bisa teori tapi miskin praktik. 

Keberadaan SMK memang perlu dukungan semua pihak. Model SMK rujukan menjadi solusi dalam penyediaan sarana praktik bersama. Penunjukan SMK mini potret nyata pembenahan serius dijalankan. Agar SMK sastra hanya cerita masa lalu dan berganti menjadi SMK yang mumpuni dibuangnya baik teori dan praktik.


0 komentar:

Posting Komentar